Bagi pengelola gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, hotel, dan fasilitas komersial lainnya, kondisi ini membutuhkan perhatian lebih dari sekadar menjaga kebersihan ruangan. Sistem ventilasi, filtrasi udara, prosedur pemeliharaan, hingga kesiapan operasional perlu dievaluasi agar gedung dapat merespons perubahan kondisi lingkungan dengan tepat.
Lalu, apa saja yang perlu diperhatikan untuk menjaga kualitas udara indoor saat karhutla? Berikut lima aspek penting yang dapat menjadi acuan bagi facility manager, building manager, dan tim General Affairs (GA).
Mengapa Karhutla Perlu Menjadi Perhatian Pengelola Gedung?
Asap karhutla merupakan campuran partikel dan gas hasil pembakaran vegetasi. Salah satu komponen yang perlu diperhatikan adalah PM2.5, yaitu partikel halus berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.
Meskipun aktivitas berlangsung di dalam gedung, penghuni tidak selalu sepenuhnya terlindungi dari polusi udara luar. Partikel asap dapat masuk melalui bukaan bangunan, celah pintu dan jendela, maupun sistem ventilasi yang mengambil udara dari luar.
Besarnya paparan di dalam ruangan dipengaruhi oleh kondisi bangunan, tingkat kebocoran udara, sistem ventilasi dan filtrasi, serta sumber polutan di dalam gedung itu sendiri.
Menurut World Health Organization (WHO), asap kebakaran hutan dapat menimbulkan risiko kesehatan, terutama akibat paparan partikulat halus. Oleh karena itu, pemantauan kualitas udara dan pengendalian paparan menjadi bagian penting dalam menghadapi kondisi tersebut.
Bagi pengelola gedung, langkah yang diperlukan bukan hanya memastikan ruangan terlihat bersih, tetapi juga mengevaluasi sistem bangunan dan prosedur operasional yang berpengaruh terhadap kualitas udara indoor.
5 Hal yang Perlu Diperhatikan untuk Menjaga Kualitas Udara Indoor
1. Pantau Kualitas Udara Indoor dan Outdoor Secara Berkala
Langkah pertama adalah memahami kondisi kualitas udara di luar maupun di dalam gedung. Informasi kualitas udara luar dapat membantu pengelola mengantisipasi periode ketika paparan asap meningkat, sedangkan pengukuran di dalam ruangan membantu mengevaluasi kondisi aktual fasilitas.
Salah satu parameter yang dapat diperhatikan adalah PM2.5. Pengelola dapat memantau informasi kualitas udara dari sumber resmi, kemudian mempertimbangkan penggunaan alat pemantau partikulat untuk mengetahui perubahan konsentrasi di dalam gedung.
Beberapa hal yang dapat dilakukan meliputi:
- Memantau perkembangan kualitas udara luar selama periode karhutla.
- Mengukur PM2.5 indoor pada area yang relevan dengan aktivitas penghuni.
- Membandingkan hasil pengukuran sebelum dan setelah penyesuaian sistem ventilasi atau filtrasi.
- Menetapkan prosedur respons ketika hasil pemantauan menunjukkan kondisi yang memburuk.
Pengukuran sebaiknya dilakukan menggunakan alat yang sesuai dan dengan mempertimbangkan lokasi penempatan, kondisi operasional, serta keterbatasan perangkat. Sensor PM2.5 tidak mengukur seluruh jenis polutan, sehingga hasilnya tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya indikator kualitas udara secara menyeluruh.
Dengan pemantauan yang terencana, facility manager memiliki dasar yang lebih baik untuk menentukan tindakan berikutnya, bukan hanya mengandalkan kondisi udara yang terlihat atau tercium.
2. Evaluasi HVAC dan Tingkatkan Filtrasi Udara
Sistem heating, ventilation, and air conditioning (HVAC) berperan dalam sirkulasi udara dan pengendalian kondisi termal di dalam gedung. Ketika asap karhutla meningkatkan konsentrasi partikel di udara luar, pengelola perlu mengevaluasi kemampuan sistem HVAC dalam menyaring partikel yang masuk.
Salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan adalah meningkatkan efisiensi filtrasi. Filter dengan klasifikasi MERV 13 atau lebih tinggi dapat menjadi pilihan apabila kompatibel dengan desain HVAC dan kemampuan kipas. Pemasangan filter dengan efisiensi lebih tinggi tanpa evaluasi teknis dapat meningkatkan hambatan aliran udara dan memengaruhi kinerja sistem.
Selain itu, air cleaner dengan filter HEPA dapat dipertimbangkan untuk area tertentu, terutama ketika diperlukan pengurangan partikel tambahan. Perangkat harus dipilih berdasarkan luas ruangan, kapasitas pembersihan udara, penempatan, dan kebutuhan operasional. Filter HEPA tidak otomatis dapat dipasang sebagai pengganti filter HVAC konvensional tanpa memastikan sistem memang dirancang untuk mengakomodasinya.
Hal-hal yang perlu diperiksa oleh tim facility management meliputi:
- Kondisi fisik filter dan jadwal penggantiannya.
- Kesesuaian spesifikasi filter dengan sistem HVAC.
- Kondisi pemasangan dan potensi kebocoran di sekitar filter.
- Kinerja aliran udara setelah perubahan jenis filter.
- Kebutuhan air cleaner tambahan pada area tertentu.
Evaluasi dan perubahan konfigurasi sebaiknya dilakukan bersama teknisi HVAC atau tenaga profesional yang memahami sistem gedung. Tujuannya adalah meningkatkan pengendalian partikulat tanpa mengganggu kinerja dan kebutuhan ventilasi bangunan.
Baca juga: Apa Itu Daily Cleaning? Pengertian, Manfaat, dan Area Pembersihannya
3. Atur Asupan Udara Luar dan Cegah Infiltrasi Asap
Selain filtrasi, pengelola gedung perlu memperhatikan jalur masuknya udara luar. Ketika konsentrasi asap meningkat, udara yang masuk melalui outdoor air intake, celah bangunan, pintu, dan jendela dapat menjadi salah satu jalur masuk polutan.
Karena itu, evaluasi sistem ventilasi dan kondisi bangunan menjadi bagian penting dari pengendalian kualitas udara indoor.
Beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan adalah:
- Memeriksa lokasi dan kondisi outdoor air intake agar tidak berada dekat sumber asap lokal, seperti area pembuangan atau emisi kendaraan.
- Memastikan damper dan komponen pengatur udara bekerja sesuai fungsinya.
- Memeriksa kebocoran pada pintu, jendela, dan bagian selubung bangunan yang memungkinkan masuknya udara tanpa penyaringan.
- Mengevaluasi pengoperasian sistem HVAC berdasarkan kondisi kualitas udara luar dan kemampuan filtrasi yang tersedia.
Pada periode dengan konsentrasi asap tinggi, pengurangan asupan udara luar mungkin diperlukan untuk mengurangi masuknya polutan. Namun, penyesuaian ini harus dilakukan secara terukur dengan tetap memperhatikan kebutuhan ventilasi minimum, kepadatan penghuni, dan potensi penumpukan polutan dari sumber internal.
Menutup seluruh ventilasi atau mematikan sistem udara luar tanpa evaluasi bukanlah langkah yang tepat untuk semua jenis gedung. Pengaturan perlu mengikuti desain sistem, rekomendasi teknis, dan panduan otoritas yang relevan.
4. Sesuaikan Jadwal dan Metode Pembersihan
Ketika karhutla menyebabkan kondisi lingkungan lebih berdebu, pengelola gedung juga perlu mengevaluasi prosedur pembersihan. Partikel dapat mengendap pada permukaan setelah masuk ke dalam bangunan, terutama di area yang dekat dengan akses luar atau memiliki aktivitas tinggi.
Dalam kondisi tersebut, peningkatan frekuensi pembersihan dapat dipertimbangkan berdasarkan tingkat paparan dan kebutuhan fasilitas. Namun, metode yang digunakan sama pentingnya dengan frekuensi pekerjaan.
Pembersihan yang tidak tepat dapat membuat debu dan abu kembali beterbangan ke udara. Oleh karena itu, pengelola perlu memastikan metode yang digunakan sesuai dengan jenis permukaan dan kondisi kontaminasi.
Area yang dapat menjadi prioritas antara lain:
- Lobi dan pintu masuk: area yang berhubungan langsung dengan aktivitas dari luar gedung.
- Lantai dan keset: area tempat debu dapat terbawa melalui alas kaki dan pergerakan orang.
- Permukaan horizontal: seperti meja, kusen, dan permukaan fasilitas yang mudah menerima endapan debu.
- Koridor dan area bersama: terutama pada gedung dengan mobilitas penghuni yang tinggi.
Untuk pembersihan rutin, kain lembap dan metode pel yang sesuai dapat membantu mengangkat debu tanpa membuatnya terlalu banyak beterbangan. Hindari menyapu kering pada area yang mengandung abu atau debu halus. Jika terdapat endapan abu dalam jumlah besar, gunakan prosedur penanganan khusus yang sesuai dengan pedoman keselamatan.
Pengelola juga perlu mengoordinasikan jadwal pembersihan dengan jam operasional gedung agar pekerjaan dapat dilakukan secara efektif tanpa mengganggu aktivitas penghuni.
Perlu dipahami bahwa pembersihan permukaan membantu mengendalikan debu yang telah mengendap, tetapi tidak menggantikan filtrasi dan pengendalian partikel yang masih berada di udara.
5. Siapkan Prosedur Respons dan Pemulihan Gedung
Pengelolaan kualitas udara indoor akan lebih terarah apabila gedung memiliki prosedur respons terhadap kondisi asap. Prosedur ini membantu tim operasional mengetahui tindakan yang perlu dilakukan, pihak yang bertanggung jawab, dan kondisi yang menjadi dasar pengambilan keputusan.
Persiapan tidak perlu menunggu sampai kualitas udara memburuk. Pengelola dapat menyusun rencana yang mencakup tahap sebelum, selama, dan setelah periode paparan asap.
Sebelum kondisi memburuk, pastikan penanggung jawab dari tim facility management, teknisi HVAC, dan tim kebersihan telah ditentukan. Periksa kesiapan filter pengganti, jadwal pemeliharaan, serta prosedur perubahan pengoperasian sistem.
Selama periode asap, tim dapat meningkatkan frekuensi pemantauan sesuai kebutuhan, mengevaluasi kinerja filtrasi, menyesuaikan jadwal pembersihan, dan menyampaikan informasi kepada tenant atau penghuni apabila terdapat perubahan operasional yang relevan.
Setelah kondisi udara luar membaik, pengelola tidak perlu langsung mengasumsikan bahwa kondisi indoor telah kembali normal. Evaluasi kembali kualitas udara, periksa kondisi filter, identifikasi area dengan endapan abu, dan lakukan pembersihan sesuai kebutuhan. Pengaturan HVAC kemudian dapat dikembalikan secara bertahap mengikuti prosedur teknis yang berlaku.
Komunikasi internal juga penting agar perubahan pengaturan gedung tidak dilakukan secara terpisah oleh masing-masing tim. Koordinasi yang baik membantu memastikan tindakan pengendalian berjalan konsisten dan dapat dievaluasi efektivitasnya.
Baca juga: Jasa Home Cleaning Profesional, Bersih Total dalam Sekali Datang!
Checklist Facility Management Saat Karhutla
Untuk memudahkan penerapan di lapangan, berikut checklist yang dapat digunakan pengelola gedung untuk mengevaluasi kesiapan fasilitas.
Pemantauan kualitas udara
- Memantau informasi kualitas udara luar dari sumber resmi.
- Menentukan area indoor yang perlu dipantau.
- Menetapkan indikator dan prosedur respons ketika kualitas udara memburuk.
HVAC dan filtrasi
- Memeriksa kondisi filter dan jadwal pemeliharaan.
- Mengevaluasi kompatibilitas filter dengan sistem HVAC.
- Memeriksa damper, aliran udara, dan potensi kebocoran pada pemasangan filter.
- Menilai kebutuhan air cleaner tambahan jika diperlukan.
Ventilasi dan kondisi bangunan
- Memeriksa outdoor air intake dan kondisi damper.
- Mengidentifikasi celah yang memungkinkan udara masuk tanpa penyaringan.
- Memastikan penyesuaian ventilasi tetap memenuhi kebutuhan minimum bangunan.
Kebersihan gedung
- Menentukan area prioritas berdasarkan tingkat paparan dan lalu lintas.
- Menyesuaikan frekuensi pembersihan sesuai kondisi aktual.
- Memastikan metode pembersihan tidak menyebabkan debu atau abu kembali beterbangan.
Kesiapan operasional
- Menetapkan penanggung jawab dan jalur komunikasi.
- Memastikan ketersediaan filter serta perlengkapan pembersihan yang diperlukan.
- Menyiapkan prosedur pemulihan setelah kondisi asap mereda.
Checklist ini dapat disesuaikan dengan jenis bangunan, kapasitas sistem HVAC, jumlah penghuni, dan karakteristik operasional masing-masing fasilitas.
Baca juga: Apa Itu General Cleaning? Pengertian, Manfaat, dan Area Pembersihannya
Peran Cleaning Service dalam Pemeliharaan Gedung Saat Karhutla
Dalam pengelolaan gedung saat karhutla, cleaning service berperan menjaga kebersihan permukaan dan area fasilitas agar debu serta kotoran yang mengendap dapat ditangani dengan metode yang tepat.
Namun, pengendalian kualitas udara indoor membutuhkan pendekatan yang lebih luas. Pemantauan partikulat, pengaturan ventilasi, dan peningkatan filtrasi merupakan aspek teknis yang perlu ditangani bersama tim facility management serta tenaga profesional yang kompeten.
Di sinilah koordinasi antara pengelola gedung dan penyedia jasa kebersihan menjadi penting. Pengelola dapat menentukan area prioritas, standar kebersihan, serta penyesuaian jadwal berdasarkan kondisi fasilitas. Tim cleaning service kemudian menjalankan pekerjaan sesuai ruang lingkup, prosedur, dan kebutuhan yang telah ditetapkan.
Jaga Kebersihan Gedung Bersama ecoCare Cleaning
ecoCare Cleaning menyediakan layanan Daily Cleaning dan General Cleaning untuk membantu pemeliharaan kebersihan fasilitas bisnis. Pemilihan layanan dapat disesuaikan dengan karakteristik gedung, luas area, intensitas aktivitas, dan kebutuhan pembersihan.
Daily Cleaning dapat mendukung pemeliharaan kebersihan rutin, sedangkan General Cleaning dapat dipertimbangkan untuk kebutuhan pembersihan menyeluruh pada area tertentu. Penentuan metode dan cakupan pekerjaan tetap perlu mempertimbangkan kondisi aktual serta prosedur keselamatan yang berlaku.
Dengan pembagian peran yang jelas, pemeliharaan kebersihan dapat berjalan sebagai bagian dari pengelolaan fasilitas yang terkoordinasi, tanpa mengesampingkan kebutuhan pengendalian kualitas udara melalui sistem bangunan.
Untuk mendiskusikan kebutuhan kebersihan kantor dan fasilitas bisnis Anda, hubungi tim ecoCare Cleaning melalui WhatsApp 0851-8328-8918 untuk menentukan layanan yang sesuai dengan kebutuhan operasional gedung.
